PANORAMA GUNUNG MANGGA
Soreh Hari: diLifofa, kec. Oba Selatan (in the beach- Lifofa-soth oba)
Diatas Gunung mangga
Diatas Gunung mangga
Melihat beberapa gambar di atas mengingatkan saya pada
perjalaan Mudik balik Lebaran tahun 2014 /1435 H. Tepatnya tanggal 30 Juli
2014. Pada saat ketika balik dari kampung halaman kakek (Lifofa, kec. Oba
Selatan), tak disangka perjalanan yang memakan waktu sekitar 6 jam ke ibu kota
Maluku utara (sofifi) terasa sangat melelahkan. Pinggang terasa sakit, perut
seperti orang yang baru selesai makan tanpa istrahat beberapa detik langsung pergi
kemudian mersakan bagaimana pahitnya rasa sakit.
Singkat ceritanya dalam perjalanan itu, ada sebuah jalan
yang konon banyak masyarakat menganggap sangat rawan untuk dilalui apalagi
sendirian, tepatnya di disamping pohon beringin dan sampai sekarang pohon itu
tumbuh besar sehingga dinamakan pohon suanggi (tempat setan/kumpulan mahluk
gaib). Tak kalah penting juga ada sebuah
gunung yang dahulu apabila dilalui oleh kendaraan roda dua, tidak bisa untuk
menaikinya oleh karena itu penumpang yang berada dibelakangnya harus turun
kemudian jalan kaki kemudian naik kembali hingga kendaraan sampai pada titik
aman. Gunung itu diberi nama “gunung mangga’. Alhamdulillah... gunung tersebut
di tahun 2014 telah di perbaiki oleh pihak pemerintah sehingga apabila dilalui
oleh masyarakat juga tidak perlu penumpang yang berada dibelakangnya turun atau
jalan kaki. Yahhh walupung masih ada sudut –sudut yang membahayakan, dengan
terjangnya jurang......., kedua nama ini yg sering dikaitkan dengan orang –
orang yang sering mengalami kecelakaan ketika dilewatinya.
Mungkin inilah ceritanya; dalam perjalanan yang sendirian
ditengah hutan belantara, tak ada siapa–siapa, tak ada rumah, hanya bisa terdengar gemuru bunyi- bunyian
dan suara nan indah merduh - burung – burung pedalaman. Tak disangka suara
–suara itu memikat hati kemudian saya turun dari kendaraan/ motor untuk melihat
beberapa burung bermain dan memfoto beberapa pemandangan yang berada di
sekililingnya.
Sedikitpun tak teringat akan kedua sosok jalan misterius
yang berada di belantara jalan pulau halmahera itu. Dalam hati, inilah yang mungkin
disebut dengan surga dunia; tiupan angin yang sejuk ditambah dengan keramaian
dan keindahan pohon – pohon yang rindang serta suara merdu burung yang masih
begitu banyak. Kesejukan angin saat itu membuat saya berpose sendirian hingga
melupakan Time kapal feri menuju ke
ternate.
Disela menghirup kesegaran udara hutan belantara, sya
duduk di atas kendaraan/motor kemudian berpikir bagaimana jadinya jika
masyrakat merusak akan keindahan sekitar gunung ini. Mungkinkah 10 atau 20
tahun kedepan keadaan lingkungan dengan kesejukan seperti ini masih terjaga
atau akan punah serta musnah ditelan perkembangan jaman.
Diakhir cerita perjalanan singkat itu tibanya sya di kota
ternate ; sya mengingat kembali kerinduan akan sebuah tempat yang rasanya ingin
berpetualangan seperti itu lagi tetapi
mungkin di bagian sudut daerah atau kota yang lain dengan mungkin juga panorama
yang jauh lebih indah.
Semoga kelestarian lingkungan kita tetap terjaga
sepanjang masa......








Komentar
Posting Komentar