PERJALANAN PAGUYUBAN BERASASKAN KEBERSAMAAN

Oleh JULDI MUSTAFA

Tujuan penulisan dengan judul “Perjalanan Paguyuban Berasaskan Kebersamaan” ini hanya sebagai memori perjalanan pribadi saya sebagai seorang yang dulunya pernah menjadi Mahasiswa dan bukan hanya menjadi Mahasiswa akan tetapi ada sekumpulan filosofi mahasiswa yang pernah dilakukan. Niatnya bukan untuk menyombongkan diri akan tetapi hnya untuk mengingat-mengingat akan kebersamaan masa mudah. Memulai tulisan ini saya ingin mengutip kalimat sikap kenegarawan dari seorang tokoh besar Negara ini-Negara Indonesia. Beliau adalah sosok yang sangat menentang kebijakan pemerintah apabila tidak sesuai dengan keinginan rakyat. Tapi beliau juga mendukung setiap apa yang menurut beliau menguntungkan bagi rakyat Indonesia. Beliau dimata saya sebagai sosok yang sangat keras dan lantang membela islam. Yaitu “Fahri Hamzah”. Siapa yang tidak kenal dengan tokoh yang satu ini. Dalam tulisan yang sangat terkesan beliau menulis pada akun facebooknya “Berjamaah berbalut cinta”. Disana beliau menggambarkan bagaiman membangun bengsa dengan berjamaah namun syaratnya memiliki cinta. Cinta yang menjadikan semua unsur saling mendukung sehingga proses perjalanan bangsa sesuai dengan arahnya.
Tokoh ini menjelaskan bagaimana bejamaah membangun negara yang menurutnya sangat penting apabila semua elemen  masuk kedalam sebuah lembaga strategis yang itu disebut dengan organisasi. Organisasi merupakan sebuah lingkup berjamaah yang kecil namun mampu menciptakan sebuah suasana yang syarat arti dan makna. Berorganisasi secara baik dan benar  memberikan gambaran lingkup berjamaah yang sukses. Seperti halnya berjamaah ketika melaksanakan Shalat. Berorganisasi memberikan peluang kepada semua untuk mengembangkan diri, mempercepat nalar berpikir serta belajar menyesuaikan dengan lingkungan lain. Lingkungan yang sebelumnya belum kita ketahui. Berorganisasi apa saja yang terpenting mempunyai satu misi dan tujuan sesuai dengan yang diharapkan bersama. Seperti halnya organisasi tingkat desa yang biasa kita sebut dengan paguyuban.
Paguyuban merupakan organiasasi terkecil dari sekian besar organiasi dimana didalamnya terdapat kelempok kekeluargaan yang mempunyai visi bersama. Kelompok Kekeluargaan dimaksud adalah orang-orang yang saling terikat hubungan persaudaraan entah sekampung ataukah lingkungan terkecil yakni keluarga besar (KB). Misalkan, sebuah paguyuban yang saya dengan teman cetuskan pada tahun 2013 silam. Organisasi paguyuban yang kami namakan “Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Lifofa (IPPMAL)” memang sebelumnya telah ada yakni pada tahun 1998-2002 namun karena gejolak permasalahan perorangan yang ingin mencari hidup masing-masing akhirnya mandet atau patah di tengah jalan alias mati tanpa nama lagi. Akhirnya di tahun 2013 dengan seorang Alumni (namanya: Ka. Muin, ST.,M.Eng) kemudian mendeklarasikan organisasi level paguyuban ini dengan harapan mahasiswa yang ada pada saat itu mampu berkontribusi didesa atau didaerahnya.
Perjalanan singkat organisasi ini adalah ketika pada bulan Septetember tahun  2013 beberapa kawan-kawan pemuda dikampung telah gelisah dengan adanya kegiatan atau aktivitas social yang dilakukan oleh kampung lain. Serta berbagai macam kreativitas yang ditunjukan oleh mahasiswa kampung sekitarnya itu sehingga muncullah pertannyaan., kenapa mahasiswa kita tdak berbuat seperti itu? Sebagian juga menanyakan apakah tidak ada kemampuan diatara mahasiswa kita untuk membuat kegiatan seperti itu?. Berbagai pertanyaanpun muncul dan seperti sebuah gejolak tersendiri bagi semua mahasiswa yang ada di kota ternate. Oleh karna pertanyaan itulah beberapa kawan-kawan pemuda (Bahtiar, Haridin, Farid, Ica, dan saya sendiri) yang pada saat itu masih aktif juga diorganisasi eksternal kampus kemudian menggagas semua anggaran dasar (AD) dan anggaran Rumah tangga (ART) bersama dengan seorang alumni yang akhirnya sampai sekarang dipakai oleh organsisasi IPPMAL.
Caritas singakatnya pada pemilihan berlangsuang. Semuanya cukup panjang dan menyita waktu ketika proses akan berjalan ke pemilihan ketua umum. Pada saat itu saya (juldi Mustafa) sebagai ketua panitia dan sekertaris panitia (Bahtiar Latif) mempunyai keinginan yang sama yakni ingin mencalonkan diri menjadi ketua umum. Sebagai mahasiswa sah-sah saja jika mempunyai ambisi akan tetapi harus ada orang yang mengarahkan supaya tidak ada tindakan yang nanti terjadi diluar dari pada agenda itu. Akhirnya kamipun mengundang beberapa alumni tambahan untuk memberi masukan terkait dengan ketua dan sekretaris. Berbagai saran dan masukan berdatangan mulai dari tata cara pemilihan sampai pada pemlihan ketua umum. Pembahasan elot ketika diajukan formasi ketua umum masing-masing. Namun bagaimanapun juga setiap orang pasti melihat hasil kerjanya. Dan pada saat itu juga karena para anggota mahasiswa melihat saya telah sukses memimpin kepanitian itu akhirnya sayapun dipilih sebagai ketua umum untuk satu tahun kedepan.
  Dengan mengucapkan rasa syukur yang sebesar-besarnya kepada Allah SWT. Pemilihian itupun melahirkan ketua umum dan sekretaris umum serta struktur untuk satu tahun kedepannya. Dengan adanya struktur itupula kami menunjukan rasa kekompakan serta solidaritas seperti keluarga sendiri. Ini dibuktikan sampai sekarang jika semua pulang kampung pasti saling tegur-teguran dan bercerita bagaimana perjalanan dulu sebagai seorang yang turut andil membangun paguyuban IPPMAL. Ada sebuah cerita menarik yang sampai sekarang kita tidak lupakan yakni ketika mau pembahasan AD, ART seorang teman menanyakan , loh, ko kenapa ada palu disini? Buat apa palu ini?, beberapa alumni hanya tersenyum sambil mengarahkan bahwa palu itu digunakan nanti ketika pembahasan sah atau tidak menurut forum dan harus ada kesepakatan berdasarkan ketukan palu siding tersebut.
Kebersamaan yang kami tunjukan pada saat itu sangat erat sampai-sampai pada tahun 2015 kamipun membuat sebuah iven sosial yang sangat besar yakni kegiatan Safari Ramadhan 1436 Hijriah (lihat tulisan yang lain mengenai “memori safari ramadhan 1436 H). Sebagai ketua umum pertama-tama yang patut saya lakukan adalah menjaga terus keharmonisan & komunikasi berlangsung kapanpun dan diamanapun berada. Kegiatan safari ramadhan telah membuktikan bahwa kami sangat kompak dimata masyarakat. Kebersamaan kami seperti saudara sendiri. Kadang saya sering mengatakan kepada kawan-kawan yang lain bahwa menjadi mahasiswa itu hanya sekali, jadi jagalah semua kebersamaan itu walaupun hanya sekali tapi penuh arti. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini